Oleh: budiyana | Oktober 4, 2007

Peran, Fungsi dan Perkembangan Organisasi Advokat

Dengan diberlakukannya UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, LN Tahun 2003 Nomor 49, TLN Nomor 4255, maka profesi advokat di Indonesia memasuki era baru. Suatu era yang dalam konteks ini diartikan sebagai pemacu bagi seorang calon advokat/advokat untuk lebih baik dalam memberi pelayanan hukum kepada masyarakat. Untuk itu, sebagai titik tolak, peran, fungsi dan perkembangan organisasi advokat perlu dipahami secara benar, baik dalam level filosofis (teori) maupun praktik.

Peran dan Fungsi Advokat

Pengertian advokat menurut Pasal 1 ayat (1) UU Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik didalam maupun diluar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang ini. Selanjutnya dalam UU Advokat dinyatakan bahwa advokat adalah penegak hukum yang memiliki kedudukan setara dengan penegak hukum lainnya (hakim, jaksa, dan polisi). Namun demikian, meskipun sama-sama sebagai penegak hukum, peran dan fungsi para penegak hukum ini berbeda satu sama lain.

Mengikuti konsep trias politica tentang pemisahan kekuasaan negara, maka hakim sebagai penegak hukum menjalankan kekuasaan yudikatif, jaksa dan polisi menjalankan kekuasaan eksekutif. Disini diperoleh gambaran hakim mewakili kepentingan negara, jaksa dan polisi mewakili kepentingan pemerintah. Sedangkan advokat tidak termasuk dalam lingkup kekuasaan negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif). Advokat sebagai penegak hukum menjalankan peran dan fungsinya secara mandiriuntuk mewakili kepentingan masyarakat (klien) dan tidak terpengaruh kekuasaan negara (yudikatif dan eksekutif).

Sebagai konsekuensi dari perbedaan konsep tersebut, maka hakim dikonsepsikan memiliki kedudukan yang objektif dengan cara berpikir yang objektif pula sebab mewakili kekuasaan negara di bidang yudikatif. Oleh sebab itu, dalam setiap memeriksa, mengadili, dan menyesesaikan perkara, seorang hakim selain wajib mengikuti peraturan perundang-undangan harus pula menggali nilai-nilai keadilan yang hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat.

Jaksa dan Polisi dikonsepsikan memiliki kedudukan yang subjektif dengan cara berpikir yang subjektif pula sebab mewakili kepentingan pemerintah (eksekutif). Untuk itu, bila terjadi pelanggaran hukum (undang-undang), maka jaksa dan polisi diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk menindaknya tanpa harus menggali nilai-nilai keadilan yang hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, setiap pelanggaran hukum (undang-undang), maka akan terbuka bagi jaksa dan polisi untuk mengambil tindakan.

Sedangkan advokat dikonsepsikan memiliki kedudukan yang subjektif dengan cara berpikir yang objektif. Kedudukan subjektif Advokat ini sebab ia mewakili kepentingan masyarakat (klien) untuk membela hak-hak hukumnya. Namun, dalam membela hak-hak hukum tersebut, cara berpikir advokat harus objektif menilainya berdasarkan keahlian yang dimiliki dan kode etik profesi. Untuk itu, dalam kode etik ditentukan diantaranya, advokat boleh menolak menangani perkara yang menurut keahliannya tidak ada dasar hukumnya, dilarang memberikan informasi yang menyesatkan dan menjanjikan kemenangan kepada klien.

Perkembangan Organisasi Advokat di Indonesia

Cikal bakal organisasi advokat secara nasional bermula dari didirikannya Persatuan Advokat Indonesi (PAI), pada 14 Maret 1963. PAI ini kemudian mengadakan kongres nasional yang kemudian melahirkan Peradin. Dalam perkembangannya, Peradin ini tidak terlepas dari intervensi pemerintah sebab perjuangannya pada waktu itu dianggap membahayakan kepentingan rezim pemerintah yang sedang berkuasa sehingga munculah organisasi advokat yang disebut Ikadin. Ikadin pun kemudian pecah dan advokat yang kecewa terhadap suksesi kepengurusan Ikadin mendirikan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI).

Sejak diberlakukannya UU Advokat pada tanggal 5 April 2003, maka 8 organisasi advokat yaitu IKADIN, IPHI, HAPI, AKHI, AAI, SPI, HKHPM, dan APSI diamanatkan oleh pembentuk undang-undang untuk membentuk suatu organisasi advokat dalam kurun waktu 2 tahun. Untuk itu, dibentuklah Komite Kerja Advokat Indonesia, yang kemudian KKAI ini merumuskan Kode Etik Advokat Indonesia pada tanggal 23 Mei 2002 dan mendeklarasikan organisasi advokat sebagai organisasi payung advokat di Indonesia yang disebut Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia/Indonesian Advocates Asociation) pada tanggal 21 Desember 2004 yang akta pendiriannya disahkan pada 8 September 2005.

Peradi tersebutlah yang pada saat ini menyelenggarakan Pendidikan Khusus Pendidikan Advokat (PKPA), Ujian Profesi Advokat (UPA), dan Magang bagi seorang yang berlatar pendidikan tinggi hukum yang berniat untuk menjalankan profesi advokat di Indonesia.


Responses

  1. salam kenal Pak Budi!

  2. Salam kenal juga Pak Ben.

  3. apa pengertian dari advokat?
    tolong di jawab secepatnya dan singkat padat dan jelas!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. @Rindi
    Dalam UU Advokat disebutkan bahwa advokat adalah orang yang berprofesi memberikan jasa hukum baik didalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang ini (Vide Pasal 1 angkat (1) UU Advokat). Saya pikir pengertian ini sudah singkat, padat dan jelas. Heee,,,terima kasih atas perhatian dan kunjungannya.

    Salam Hangat dari Saya,

    Budiyana

  5. salam knal….
    mau donk contoh soal pilihan ganda dan esay nya….

    spy nanti saya ga bolak balik ujian terus….
    hehehe
    makasih…..
    rienov
    0351.7787400

  6. perkembangan organisasi itu baik namun selalu dimana-mana ada konflik itu kenapa?

  7. mw nanya tentang dewan kehormatan..
    mengenai tugas, fungsi dan tanggung jawab..
    makasiyh..

  8. slam kenal…….
    Mana oraganisasi tunggal advokat yang benar?karena PERADIN,PERADI,DAN KAI,masing2 mengaklaim berhak mengeluarkan ijin beracara,kan kasian buat calon2 advokat baru…….

  9. Hello salam angat dari Biak Tanah Papua.
    Aduhh cukup aja PERADI sebagai Single Law Board saja sebagb klau banyak organisasi ntar baku klaim takut terjadi perang dunia ke III wah ancur sudah negeri ini.seperti lagunya Black Brothers ” DUNIA KIAMAT”.maju trus peradi Papua tetap mendukung Peradi sebagai legal Board.bagaimana nasib kita ujian advokat tgl 17 Oktober nanti?
    salam hormat dari biak papua
    Yotam Wakum
    Mobile.081344260004

  10. salam peduli pak
    kenapa organisasi advokad begitu banyak betul di negara ini!!!!
    apakah nanti bisa di jamin oleh si pendiri para advikad yg beracara di pengadilan saling jelek menjelekan antara organisasi advokad yang satu dengan advokAd yang lain kerena masing2 mengkleim dialah yg benar.
    terima kasih

  11. salam peradi !!!!!!!!!

  12. I really wonder the reason why you titled this specific blog, “Peran, Fungsi dan Perkembangan Organisasi Advokat « Monyet2 Kecil
    Pada Nakal”. In any case I personally admired it!Thanks,
    Staci

  13. tanks saya jd tmbh ilmunya, ;)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: