Oleh: budiyana | Februari 5, 2009

Belajar Hukum Lagi Yuk!

Berkecimpung didunia praktik hukum saya merasa kurang terus soal materi hukum dan berhukum yang baik serta benar. Perasaan inipun kemudian selalu menguat ketika menghadapi hal-hal baru cara berhukum yang tidak ditemukan saat kuliah dulu, maupun Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Saya sependapat dengan pandangan bahwa seorang praktisi hukum (baca: advokat) harus mampu mengkontruksikan, menciptakan, dan menafsirkan hukum dalam konteks perkembangannya. Bila kita tidak bisa mengimbangi, terutama dari sisi keilmuan, maka pada prinsipnya akan melibas siapa saja yang ‘tuli’ dan ‘buta’. Begitulah kira-kira pesan yang saya tangkap dari bagian pengantar bukunya Prof. Dr. H.R. Otje Salman S., SH. dan Anton F. Susanto, SH., M.Hum. (lihat Teori Hukum:Mengingat, Mengumpulkan, dan Membuka Kembali)

Untuk dapat mengkontruksikan, menciptakan dan menafsirkan hukum dalam konteks perkembangannya tentu bukan hal yang mudah. Setidaknya harus berapa literatur lagi yang dibaca dan mungkin perlu waktu puluhan tahun jam terbang (pengalaman praktik) atau bahkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih lebih tinggi lagi. Disinilah pengembaraan dan pencarian tentang kebenaran (truth), yaitu keinginan melihat dan memahami segala sesuatu perkembangan hukum secara utuh dan mendalam dan itulah proses pemaknaan. Menurut saya mungkin kata kuncinya selain menjadi praktisi hukum jadilah ‘Penstudi Hukum”. Sidarta menggunakan istilah “Partisipan (medespeler) Hukum” untuk menunjukan Penstudi Hukum yang sekaligus juga sebagai pengemban hukum (pengemban hukum menurutnya dibedakan menjadi pengemban hukum teoritis dan praktisi).  Selain itu ada juga istilah “Pengamat (toeschouwer) Hukum”, yaitu penstudi hukum, tetapi bukan pengemban hukum. (Lihat Shidarta, Penalaran Hukum dalam Sudut Pandang Keluarga Sistem Hukum dan Penstudi Hukum)

Mengacu pada penyebutan istilah tersebut, maka titik tolak belajar hukum saya akan memposisikan sebagai Partisipan Hukum (Praktis) disingkat PHP. Seorang PHP memiliki perbedaan sangat tipis sekali dengan Seorang Pengamat Hukum. PHP akan berkenaan langsung dengan adanya dan berlakunya hukum di masyarakat. Bila dihubungkan dengan kerja-kerja mengkonstruksikan, menciptakan, dan menafsirkan hukum, maka PHP harus dapat memiliki kemampuan semuanya. Sedangkan seorang Pengamat hukum hanya dua bidang, yaitu mengkonstruksikan dan menafsirkan hukum sesuai hasil amatannya. Meskipun keduanya memiliki persamaan, yaitu sama-sama sebagai penstudi hukum.

Sebagai peta belajar hukum bagi seorang PHP setidaknya harus mengetahui bahwa hukum sebagai ilmu setidaknya memiliki struktur keilmuan yang dapat dipelajari. Untuk memudahkan belajar, saya sependapat dengan tingkatan (level) abstraksi mulai dari yang terendah sampai tertinggi yaitu (1) dokmatika hukum (ilmu hukum positif atau ada juga yang menyebutnya ilmu hukum dalam arti sempit), (2) teori hukum, dan (3)  filsafat hukum. Gambaran sederhananya, dokmatika hukum dipelajari terutama di jenjang S-1 (Sarjana), Teori hukum dipelajari terutama dijenjang S-2 (Magister), dan Filsafat hukum dipelajari terutama dijenjang S-3 (Doktor). Inilah menurut saya proses pengembaraan dan pencarian tentang kebenaran dilihat dari sisi jenjang pendidikan di Fakultas Hukum yang bagi PHP harus memahami prosesnya secara utuh, namun tidak berarti mengikuti semua proses itu secara formal. Argumen pembenarnya adalah banyak cara dan media untuk belajar hukum, toh hukum sebagai objek ilmu sangat terbuka ruang untuk dipelajari dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Sebagai disiplin hukum dengan abstraksi terendah (untuk kepentingan praktis saja), maka belajar dogmatika hukum diarahkan untuk dapat memenuhi kegiatan praktik hukum seperti inventarisasi, kompilasi, interpretasi, konstruksi, sistimatisasi, dan/atau evaluasi terhadap teks otoritatif sumber hukum seperti perundang-undangan. Intinya kegiatan ini adalah untuk menerapkan hukum positif terhadap peristiwa kongkret di masyarakat. Sindiran terhadap PHP golongan ini mungkin pernah dengar istilah hanya corong undang-undang saja.

Tingkat lebih tinggi dari dokmatika hukum adalah Teori Hukum. Istilah Teori Hukum ini sering kebolak-balik dengan istilah Teori Ilmu Hukum. (lanjut nanti,,,,hehehe)


Responses

  1. Nice blog, ‘n salam kenal….

  2. Bagus salam kenal

  3. salam kenal jga yee

  4. super,,please writes again your creative brain

  5. Aku ikut belajar ya kak, aku mahasiswa baru nih. Fak. Hukum


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: